Saya sadar betul dengan keterbatasan pola komunikasi Saya, dan bagaimana ini dapat mempengaruhi Saya secara total baik secara mental maupun fisik. Keinginan Saya setelah lulus kuliah keperawatan sebenarnya tidak muluk-muluk. Saya hanya ingin bisa menjadi seorang perawat dengan kemampuan se-standar mungkin. Tidak harus mahir, yang penting mampu. Untuk sekedar mengisi rutinitas. Karena bagi Saya profesi keperawatan itu adalah kewajiban dan bukan merupakan pekerjaan. Menolong orang itu wajib, sama kek makan. Kalo enggak makan berarti mati. Dunia Saya yang sesungguhnya tidak ada di Rumah Sakit. Dunia Saya yang sesungguhnya ada di seni. Di tulisan, di gambar, di kertas, di komputer, di kepala Saya.

Taufik Nurrohman · · 0 Komentar

Sebenarnya, solusi yang paling masuk akal yang entah bagaimana sering terabaikan adalah mengenai cara terbaik untuk mencegah sesuatu berakhir, yaitu dengan cara tidak memulainya.

Taufik Nurrohman · · 0 Komentar

Saya pikir metode ujian psikotes terbaik adalah dengan menggali persepsi peserta terhadap ujian psikotes tersebut. Ujian hanya digunakan sebagai formalitas saja, dan mengenai bagaimana cara mereka menyikapi ujian tersebut sudah dapat menunjukkan watak setiap peserta.

Taufik Nurrohman · · 0 Komentar

Di satu sisi, Saya sangat tidak suka dengan cara anak-anak keperawatan berfoto-foto di Rumah Sakit, sok-sokan pegang bayi lah, pakai celemek lah, pakai stetoskop dan pegang buku NOC-NIC juga, jika kenyataannya praktik saja masih males-malesan. Gayanya saja yang selangit tapi kemampuannya nol. Itu yang menyebabkan Saya konsisten untuk tidak ikut-ikutan foto bareng mereka.

Tapi di sisi yang lainnya lagi Saya juga kadang mikir, mungkin mereka melakukan itu karena mereka bangga dengan profesi yang mereka kerjakan. Sedangkan Saya yang tidak mau berfoto bersama mereka, seolah seperti tidak bangga dengan profesi Saya sendiri. Seperti itu kah?

Taufik Nurrohman · · 0 Komentar